Billboard masih menjadi salah satu pilihan brand untuk membangun awareness di ruang publik. Namun, ketika media digital menawarkan targeting yang semakin spesifik dan hasil campaign yang lebih mudah diukur, muncul sebuah pertanyaan yang menimbulkan dilema: apakah apakah iklan billboard masih efektif di era digital?
Pertanyaan ini membuat sebagian orang berpikir dua kali dalam menggunakan iklan billboard, apalagi biayanya tidak kecil. Lantas, bagaimana faktanya?
Iklan Billboard di Era Digital
Billboard dan iklan digital sebenarnya bekerja dengan cara yang berbeda. Iklan digital bisa muncul berdasarkan pencarian, minat, lokasi, atau perilaku pengguna. Brand juga bisa melihat berbagai data setelah iklan berjalan dan melakukan penyesuaian campaign dengan cepat.
Billboard punya kekuatan yang berbeda. Media ini hadir di ruang yang memang digunakan orang untuk beraktivitas dan bepergian. Sebuah billboard dapat dilihat oleh orang yang melewati jalan tersebut setiap hari, tanpa mereka perlu membuka aplikasi atau melakukan pencarian terlebih dahulu.
Hal ini membuat billboard tetap relevan untuk kebutuhan tertentu, terutama ketika brand ingin membangun awareness atau memperkuat keberadaannya di suatu area. Brand yang sedang membuka cabang baru, menjalankan campaign berskala besar, atau ingin dikenal lebih luas di sebuah kota misalnya, membutuhkan kehadiran yang tidak hanya muncul di layar pribadi.
Jadi, menggunakan billboard bukan berarti mengabaikan digital. Justru keduanya bisa memiliki peran masing masing dalam satu campaign.
Traffic Tinggi Bukan Jaminan Billboard Efektif
Salah satu hal yang sering menjadi pertimbangan ketika memilih billboard adalah jumlah kendaraan atau orang yang melewati lokasi tersebut. Data traffic memang penting, tetapi angka yang besar belum tentu berarti sebuah titik adalah pilihan terbaik.
Bayangkan ada dua billboard. Titik pertama berada di jalan yang sangat ramai, tetapi kendaraan bergerak cepat dan media berada di antara banyak papan iklan lainnya. Titik kedua memiliki jumlah kendaraan lebih sedikit, tetapi berada di kawasan yang sesuai dengan target audience dan memiliki jarak pandang yang lebih baik.
Untuk campaign tertentu, titik kedua bisa memberikan hasil yang lebih relevan.
Karakter traffic juga perlu diperhatikan. Orang yang melewati lokasi untuk pergi ke kawasan perkantoran tentu berbeda dengan orang yang melewati kawasan tersebut untuk berbelanja atau menuju tempat wisata. Waktu perjalanan dan kondisi jalan juga memengaruhi kesempatan seseorang untuk melihat sebuah iklan.
Karena itu, menilai billboard tidak cukup dengan bertanya, “Berapa banyak orang yang lewat?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Siapa yang lewat, bagaimana kondisi mereka ketika melewati titik tersebut, dan apakah lokasi itu sesuai dengan tujuan campaign?”
Hal yang sama berlaku untuk visibilitas. Ukuran billboard yang besar tidak banyak membantu jika sudut pandangnya terbatas, tertutup objek lain, atau terlalu banyak media di sekitarnya. Lingkungan visual di sekitar media juga dapat memengaruhi seberapa mudah sebuah pesan diperhatikan.
Evolusi Billboard Menjadi Lebih Pintar
Perkembangan teknologi juga membuat OOH ikut berubah. Billboard tidak lagi selalu berupa media statis dengan satu materi yang ditampilkan sepanjang periode campaign.
Digital billboard memungkinkan materi iklan diganti sesuai kebutuhan. Brand dapat menyesuaikan pesan dengan waktu tertentu atau menggunakan materi kreatif yang berbeda selama campaign berlangsung. Perkembangan data juga membantu advertiser memahami karakter audience dan potensi sebuah lokasi dengan lebih baik.
Perubahan ini membuat OOH semakin mudah dihubungkan dengan strategi digital. Sebuah campaign dapat dimulai dari billboard yang membangun awareness, kemudian dilanjutkan melalui media sosial, search, atau kanal digital lain ketika audience sudah mengenal brand tersebut.
Namun, teknologi bukan berarti menjadi alasan untuk memilih billboard secara otomatis. Data tetap harus digunakan untuk menjawab kebutuhan campaign. Jika targetnya berbeda, lokasi yang dipilih juga bisa berbeda. Jika tujuan campaign berbeda, ukuran keberhasilannya pun tidak selalu sama.
Inilah alasan mengapa efektivitas billboard tidak bisa dipukul rata. Media yang sama bisa memberikan hasil yang berbeda ketika digunakan untuk brand, audience, lokasi, dan tujuan yang berbeda.
Kesimpulan
Pada akhirnya, apakah iklan billboard masih efektif di era digital bukan pertanyaan yang bisa dijawab hanya dengan melihat kebiasaan dalam penggunaan media iklan tersebut. Hal yang lebih penting adalah bagaimana billboard digunakan untuk beriklan.
Billboard masih memiliki fungsi yang kuat untuk membangun awareness dan membuat brand hadir di ruang publik. Di sisi lain, digital menawarkan kemampuan targeting, pengukuran, dan interaksi yang lebih spesifik. Keduanya tidak harus saling menggantikan karena masing-masing memiliki kekuatan yang berbeda.
Hal yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian antara tujuan campaign, target audience, lokasi, pesan, dan media yang digunakan. Billboard dengan traffic tinggi belum tentu menjadi pilihan terbaik. Begitu juga billboard dengan teknologi paling baru belum tentu cocok untuk setiap campaign.
Jadi, apakah iklan billboard masih efektif di era digital? Ya, selama brand memiliki alasan yang jelas dalam memilihnya. Ketika lokasi dan media dipilih berdasarkan kebutuhan campaign, billboard masih bisa menjadi bagian penting dari strategi pemasaran, bahkan ketika sebagian besar aktivitas pemasaran sudah bergerak ke digital.
Sedang mempertimbangkan billboard untuk campaign di Jakarta, Surabaya, Bandung, Bali, atau kota lainnya? Warna Warni Media siap menjadi partner OOH campaign Anda. Tentukan titik billboard yang sesuai dengan target audience dan tujuan campaign Anda dengan klik Hubungi Warna Warni.
