Kesalahan saat pasang billboard tidak hanya terjadi ketika memilih lokasi. Materi yang terlalu ramai, pesan yang sulit dibaca, durasi campaign yang kurang tepat, hingga tidak melakukan evaluasi juga dapat membuat billboard kurang maksimal dalam menyampaikan pesan brand.
Billboard memiliki karakter yang berbeda dengan media iklan yang dapat dilihat audiens dari jarak dekat. Audiens sering kali melihatnya sambil bergerak dan hanya memiliki waktu terbatas untuk menangkap pesan. Karena itu, setiap elemen campaign perlu dipertimbangkan sejak sebelum billboard ditayangkan.
Berikut beberapa kesalahan saat pasang billboard yang perlu dihindari brand.
1. Memilih Lokasi Hanya karena Ramai
Traffic tinggi memang menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih titik billboard. Namun, lokasi yang ramai belum tentu menjadi lokasi yang paling sesuai untuk setiap brand.
Karakter audiens yang melewati lokasi tersebut juga perlu diperhatikan. Brand perlu melihat apakah orang yang melewati titik tersebut sesuai dengan target audiens campaign.
Selain itu, perhatikan arah pandang, kondisi sekitar media, jarak pandang, serta potensi billboard terhalang objek lain.
Jadi, jangan hanya bertanya “seberapa ramai lokasi ini?”, tetapi juga “siapa yang melewati lokasi ini dan apakah mereka audiens yang ingin dijangkau?”
Baca Juga: 5 Cara Memilih Lokasi Billboard yang Tepat
2. Memasukkan Terlalu Banyak Informasi
Billboard bukan brosur berukuran besar. Memasukkan terlalu banyak teks, gambar, logo, promo, dan informasi sekaligus justru dapat membuat pesan utama tenggelam.
Tentukan informasi yang paling penting untuk dilihat audiens. Setelah itu, bangun hierarki visual yang membuat perhatian langsung mengarah pada pesan tersebut.
Semakin banyak elemen yang harus diproses, semakin sulit pula audiens menentukan informasi mana yang sebenarnya penting.
3. Membuat Pesan yang Sulit Dipahami
Desain yang menarik belum tentu efektif jika audiens tidak memahami apa yang ingin disampaikan.
Pesan billboard sebaiknya sederhana, langsung, dan mudah ditangkap. Hindari headline terlalu panjang atau penjelasan yang membutuhkan waktu lama untuk dipahami.
Brand juga perlu mempertimbangkan konteks lokasi. Billboard yang dilihat pengendara membutuhkan pendekatan berbeda dengan media yang dilihat audiens ketika berjalan kaki atau menunggu.
Karena itu, copywriting billboard perlu menyesuaikan cara audiens berinteraksi dengan media.
Baca Juga: 8 Cara Membuat Copywriting Iklan Billboard yang Menarik Perhatian
4. Mengabaikan Keterbacaan dari Jarak Pandang Audiens
Materi billboard tidak cukup dinilai dari layar laptop atau file desain.
Ukuran headline, kontras, komposisi visual, hingga posisi logo perlu mempertimbangkan bagaimana materi tersebut nantinya terlihat dari jarak sebenarnya.
Desain yang terlihat jelas ketika diperiksa dari dekat belum tentu mudah dibaca ketika sudah terpasang di atas bangunan atau berada di sisi jalan.
Karena itu, keterbacaan perlu menjadi salah satu pertimbangan sejak tahap pembuatan materi, bukan baru diperiksa setelah billboard terpasang.
5. Menentukan Durasi Campaign Tanpa Pertimbangan
Campaign yang terlalu singkat dapat membatasi kesempatan audiens mendapatkan exposure berulang. Sebaliknya, campaign yang berjalan lama dengan materi yang sama juga perlu mempertimbangkan tujuan dan periode komunikasi brand.
Tidak ada satu durasi yang otomatis tepat untuk semua campaign.
Durasi perlu disesuaikan dengan objektif, budget, momentum, lokasi, dan karakter campaign. Campaign untuk peluncuran produk, misalnya, dapat memiliki kebutuhan waktu yang berbeda dengan campaign untuk membangun brand awareness jangka panjang.
Baca Juga: Berapa Lama Sebaiknya Menyewa Billboard? Ini Pertimbangannya
6. Tidak Menyesuaikan Billboard dengan Tujuan Campaign
Kesalahan lainnya adalah memilih billboard terlebih dahulu tanpa menentukan apa yang sebenarnya ingin dicapai.
Campaign untuk membangun awareness dapat membutuhkan pendekatan berbeda dengan campaign yang ingin mengarahkan audiens melakukan tindakan tertentu.
Tujuan tersebut akan memengaruhi banyak keputusan, mulai dari pemilihan titik, durasi, desain, pesan, hingga CTA yang digunakan.
Karena itu, tujuan campaign sebaiknya sudah jelas sebelum menentukan media dan materi billboard.
7. Tidak Mengevaluasi Performa Setelah Billboard Tayang
Pekerjaan tidak berhenti setelah billboard berhasil dipasang.
Brand tetap perlu mengevaluasi apakah campaign berjalan sesuai tujuan awal. Metrik yang digunakan dapat berbeda tergantung objektif, mulai dari exposure dan estimasi impression hingga respons terhadap QR code, traffic website, store visit, atau conversion jika memang dapat diatribusikan.
Evaluasi juga membantu brand memahami titik, materi, dan strategi seperti apa yang dapat digunakan atau diperbaiki pada campaign berikutnya.
Kesimpulan
Kesalahan saat pasang billboard dapat terjadi mulai dari pemilihan lokasi hingga evaluasi setelah campaign berjalan. Karena itu, billboard sebaiknya tidak dipilih hanya berdasarkan ukuran media atau ramainya suatu titik.
Brand perlu mempertimbangkan target audiens, visibilitas lokasi, materi kreatif, durasi, serta tujuan campaign secara keseluruhan. Perencanaan yang matang membantu billboard bekerja lebih optimal dalam menyampaikan pesan kepada audiens yang ingin dijangkau.
Jika Anda ingin menentukan titik dan media billboard yang sesuai dengan kebutuhan campaign, hubungi Warna Warni Media untuk menemukan pilihan lokasi yang tepat bagi brand Anda!
